Tampilkan postingan dengan label Obrolan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Obrolan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 04 Maret 2011

Baby



Pernahkah merasakan sakitnya sebuah penolakan? sakitnya ketika keberadaan kita di dunia tidak pernah diharapkan? sakitnya ketika asal usul kita kerapkali diungkit?

Tahukah betapa bahagianya ketika perbedaan itu ditiadakan? bahagianya ketika mendapat pengakuan dan disesejarkan sama dengan yang lainnya?

Kalimat-kalimat itu mungkin mewakili banyak bayi yang terlahir tanpa diharapkan. Mereka terlahir dalam keadaan suci tanpa dosa, tak pernah tau apa yang dilakukan orangtuanya. Kenapa harus disakiti

Allah tidak pernah membeda-bedakan mahluk cipataannya, Tidak membedakan antara yang berkulit hitam dan putih, yang rupawan dan buruk rupa, yang cacat dan yang sempurna secara fisik, yang kaya dan yang miskin, yang gendut dan kurus, jenis kelamin laki-laki dan perempuan, bahkan tak pernah membedakan antara anak ustazah dan pelacur (maaf), anak yang lahir diluar nikah atau anak sah, Semuanya sama dan sejajar ketika mahluknya tetap bertakwa dan iman padaNYA. Lalu kenapa manusia sendiri yang menciptakan perbedaan itu? bukankah itu menyakitkan?

Anak yang kita miliki adalah TitipanNYA, alangkah lebih bijaknya bila kita merawatnya dengan penuh cinta kasih, tanpa membedakan apalagi menyakiti.

Rabu, 02 Maret 2011

Jejaring Sosial

Miss Ringring Forever


Sarana paling ampuh buat ungkapin perasaanku sekarang lewat fesbuk, twitter, status di YM atau BB (duh sedihnya kalo inget sama BB ku yang sekarang entah dimana) coz reaksinya lebih cepat. Kalo lagi kesel atau ada yang ga berkenan dihati baik itu ke anak-anak, my hubby atau ke keluarga besarku, biasanya aku update status hihihihi. Kadangkala aku ga bisa ungkapin apa yang ada dihati, daripada pasang muka jutek memendam sendiri karena ga mampu ngomong ya mending lewat tulisan aja.

Pernah aku update status di fesbuk tentang perasaanku yang lagi gundah gulana (hahaha lebay banget ya), temen aku yang tukang banyol kasih komen yang bikin aku ngakak, padahal jelas-jelas melenceng dan ga berhubungan dari status yang aku buat. Tapi lumayan bikin emosi menurun sampai aku merenung lagi kenapa ya ko sampai nulis status berdarah-darah gitu? duh noraknya

Lewat jejaring sosial itu, aku juga bisa tau perasaan anak-anakku, bahkan apa yang sedang mereka lakukan (Siapa suruh kasih info). Yah intinya ada juga hal positif yang didapat. Tentu saja ada juga dampak negatifnya. Seperti anak perempuanku yang kebingungan kalo batre Hp nya mau sekarat, atau sibuk melototin layar HP tiap detik (sumpah ini paling bikin aku bete). Pihak sekolah juga pernah menghimbau para orangtua untuk tidak mengijinkan anak-anak membawa HP ke sekolah. Jujur aja kalo untuk hal ini aku ga setuju. Tujuan aku sih buat cek anak-anak aja. Akhirnya Sekolah mengijinkan membawa HP tapi bukan Blackberry karena bisa dijadikan alat curang kalo ujian..... (weleh weleh mencontek memang aja sejak jaman dulu dan tetap jaya sampai sekarang hanya beda alatnya aja, jaman aku dulu mah nulis di gulungan kertas... hahaha)

Jejaring sosial hampir melanda semua kalangan, termasuk telah merasuki jiwa si mba pengasuh anak ponakanku (sah sah aja kan kalo dia juga mau eksis). Pernah dia bikin status gini :

" duh aku kan juga punya perasaan." (kayanya abis diomelin nih)

" Rajin sekolah ya dik, mba akan berusaha bantu kamu terus. "  (terharu)

dan tiap dia nulis status pasti pake tulisan yang aneh (menurut aku), dibolak balik, campuran antara huruf dan angka, belum lagi singkatan-singkatan yang aku ga ngerti (busyet alay banget deh kamu mba, sama kaya iparku yang hobi nulis seperti ini, duh umur udah uzur tapi .....) jadi perlu waktu lama buat bacanya. Hehehe tapi dia aku add juga lho, ......... dan dia seneng juga ko aku add, malah kirim PM

"Makasih ya Oma, udah add aku. " (alhamdulilah dia nulis dengan huruf yang wajar)

Finally... Pengaruh negatif atau positif dari jejaring sosial ini menurutku kembali ke diri kita masing-masing. Karena apapun yang kita lakukan, sebaiknya bisa kita pertanggung jawabkan, baik ke diri sendiri apalagi menyngkut orang lain.

Oke deh, udah ada bunyi bip bip nih, waktunya chat sama my hubby .....

Selasa, 01 Maret 2011

Poligami



Ini hasil ngerumpi sama beberapa lelaki dengan latar belakang dan usia berbeda, kenapa mereka berpoligami? jawabannya bikin pengen nonjok 

"Masa harus nunggu sampai kakek2 baru punya anak. Padahal bapak sudah menikah belasan tahun...dan seumur gini bapak baru punya anak satu. Itupun karena bapak kawin lagi. Yah harus bisa nerima kenyataan dong, berarti dia ada kekurangan" 

Busyet.... kalo perempuan yang mandul kenapa seperti terdakwa yang ga bisa diampuni. Kalo keadaan itu ada pada kaum Adam apa mereka mau nerima alasan itu?

"Gue pengen banget punya anak cowo. Buat nerusin garis keturunan keluarga dong. Lagipula anak laki-laki bisa ngelindungin keluarga lho"

Sumpah aku tersinggung banget. Dari aku kecil bapakku ga pernah bedain antara anak laki-laki dan perempuan. Semua harus mandiri, harus bisa survive dalam keadaan apapun. Mungkin untuk beberapa suku bangsa anak laki-laki lebih dominan, tapi apa mereka bisa tau perasaan perempuan. Akhh aku ga ngerti...

"Perkawinan lewat perjodohan orangtua itu hambar. Ga ada cinta, dan gue ga pernah bisa cinta."

Lha kalo ga cinta ko sampai punya anak dua? dan yang aku tau istrinya tuh baik banget, ngedukung karier suami sampai sekarang menjadi seorang pengusaha sukses. 

"Abis selingkuh kebablasan....yah sebagai laki-laki harus bertanggung jawab dong."

"Usia istri saya jauh lebih tua, makanya saya menikah lagi. Tapi saya tetap adil ko ke mereka. Daripada saya berzina kan dosa, lebih baik halal saja"

Berarti kan tau dong apa resikonya, nah trus kenapa tetep nekat?

"Males banget liat istri tiap pulang sibuk ngurus rumah dan anak sampai ga bisa bedain mana pembantu mana majikan. Ilfill deh. Aku maunya punya istri yang cantik, wangi dan bisa nyenengin suami. Bukan cuma sibuk sendiri."

Hmmm....itu kan artinya cinta keluarga, tapi okelah buat bahan instropeksi diri, tapi bukan berarti aku terima alasan ini.

"Istri saya sih setia tapi bisanya cuma belanja, ngabisin duit, nuntut ini itu....cape deh.Boro-boro mau mikirin masa depan atau paling ga kasih suportlah ke suami"

Aku pikir kenapa ga diajak bicara aja? dengan berkomunikasi kan bisa saling tau keinginan masing2

Dan masih banyak lagi alasan-alasan yang bikin dada sesak dengernya. Apalagi kalo sudah pake alasan bahwa dalam agama Islam diperbolehkan laki-laki mempunyai istri lebih dari satu. Pada kenyataannya alasan itu hanya untuk pembelaan saja (menurut penilaian aku pribadi lho). Tidak terpikirkah rasa sakit hati dari pasangannya? Apa yah yang sebenarnya ada di pikiran dan hati mereka (lelaki) ?

Dan jujur saja, aku ga pernah setuju yang namanya poligami dengan alasan apapun (kecuali mungkin permintaan istrinya, dan aku yakin dalam hatinya pasti ada rasa sakit....siapa sih yang mau berbagi?).